Hai sobat Minba, ada berita pertambangan baru nih!
Berdasarkan berbagai media, pada 6 September 2023 lalu, dua siswi berbakat dari MTsN 2 Kota Sawahlunto, Bebrina Latif Az-Zahra dan Raisya Qurrata Aini, berhasil menciptakan inovasi baru untuk pertambangan Indonesia. Mereka berdua berhasil menciptakan alat sensor gas metana untuk tambang batubara berbasis Internet of Things (IoT).
Inovasi ini menjadi salah satu finalis Madrasah Young Researcher Supercamp (MYRES) 2023 di Kendari, Sulawesi Tenggara, dinilai dan dipamerkan di Expo MYRES tingkat Nasional 2023 di GOR Apriani Kota Kendari Sulawesi Tenggara.
Daerah Sawahlunto, Sumatera Barat, sendiri telah lama dikenal sebagai Kota Tambang. Julukan ini diberikan karena banyaknya pertambangan batubara di Kota Sawahlunto. Namun, di Kota Sawahlunto juga kerap terjadi kecelakaan kerja akibat ledakan gas metan di pertambangan batubara. Karakter gas metan yang tanpa bau, tanpa warna, dan mudah terbakar ini yang membuat para pekerja tambang tidak menyadari keberadaannya secara kasat mata.
Hal inilah yang memancing dua siswi berbakat itu untuk menciptakan alat sensor gas metana demi meningkatkan keamanan dan mengurangi resiko kecelakan bagi pekerja – pekerja tambang batubara.
Bebrina dan Raisya memulai penelitian mereka dengan mempelajari tentang bahaya gas metana dan cara deteksinya. Mereka juga mengumpulkan data dari para pekerja PT Bukit Asam dan dosen Politeknik UNAND Kota Padang. Berdasarkan penelitian tersebut, Bebrina dan Raisya memutuskan untuk menggunakan dua sensor, yaitu sensor temperatur dan sensor gas metana.
Sebelumnya memang sudah ada alat pendeteksi serupa yang digunakan di tambang, namun alat tersebut tak terkoneksi melalui ponsel. Bebrina dan Raisya kemudian menciptakan alat pedeteksi berbasis IoT yang dilengkapi dengan alarm dimana nantinya alarm akan berbunyi dan mengirimkan sinyal kesetiap perangkat jika konsentrasi gas metana di udara mencapai titik kritis sehingga pekerja tambang dapat segera mengevakuasi diri.
Saat ini alat pendeteksi gas metana berbasis IoT yang diciptakan Bebrina dan Raisya masih dalam tahap pengembangan. Karena alat sensor yang diciptakan Bebrina dan Raisya ini berbasis IoT, maka fungsinya akan sangat bergantung pada ada tidaknya koneksi internet. Untuk menggunakan alat tersebut perlu dilakukan pemasangan kabel LAN ke dalam tambang.