{"id":2262,"date":"2023-07-17T15:27:23","date_gmt":"2023-07-17T08:27:23","guid":{"rendered":"https:\/\/teknominerba.com\/?p=2262"},"modified":"2023-07-17T15:27:23","modified_gmt":"2023-07-17T08:27:23","slug":"daur-ulang-limbah-nikel-jadi-bahan-pembuatan-jalan","status":"publish","type":"post","link":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/daur-ulang-limbah-nikel-jadi-bahan-pembuatan-jalan\/","title":{"rendered":"Daur Ulang Limbah Nikel Jadi Bahan Pembuatan Jalan"},"content":{"rendered":"<p><span style=\"font-weight: 400;\">Primadona sektor pertambangan, yaitu nikel<\/span><span style=\"font-weight: 400;\">, ternyata tetap menghasilkan limbah. Material buangan dari proses peleburan bijih nikel di smelter disebut <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">. Namun kabar baiknya, daur ulang limbah nikel bisa menjadi produk bermanfaat lain dengan metode pengolahan yang benar.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Sebagai surganya nikel, Indonesia menghasilkan 1 juta ton slag <\/span><span style=\"font-weight: 400;\">tiap tahunnya. Melansir <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">website<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> Kementerian PUPR, limbah nikel dikategorikan sebagai limbah Bahan Beracun dan Berbahaya (B3) kategori bahaya 2, dari sumber spesifik khusus. Lalu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">gimana<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> cara memanfaatkan limbah beracun ini?<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Meski dikategorikan sebagai limbah B3, Kementerian PUPR dapat memberdayakan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> sebagai bakan baku pembuatan jalan. Dari berwujud cair, bentuk fisik limbah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nikel menyerupai batu alam yang keras karena terkena kontak dengan air atau udara. Ini membuat <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> berpotensi sebagai material untuk membangun jalan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Terlebih, diketahui Kementerian PUPR akan membangun jalan baru hingga tahun 2030 meliputi 3.000 km jalan utama, 2.000 km jalan tol, dan 70 km jalan layang. Selain itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nikel dimanfaatkan masyarakat dalam skala kecil sebagai bahan <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">paving block<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> dan batako.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Tentunya daur ulang limbah nikel sebagai bahan baku jalan harus melalui pengujian sesuai Peraturan Pemerintah No. 101 Tahun 2014. Dalam PP ini tertulis, pemanfaatan limbah B3 harus dilakukan pengujian untuk mengetahui kandungan zat berbahaya. Salah satu caranya adalah dengan uji <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">Toxicity Characteristic Leaching Procedure<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (TCPL).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Dari hasil pengujian TCPL, ternyata limbah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nikel dapat digunakan sebagai bahan perkerasan jalan pengganti agregat alam. Tentunya, untuk mengubah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> jadi bahan baku pembuatan jalan perlu proses pengolahan, ya.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Proses utama dalam metode pengolahan limbah nikel adalah peleburan bijih nikel yaitu <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> cair dengan temperatur berkisar \u00b11550\u00b0C langsung dikeluarkan melewati <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag runner<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> ke kolam granulasi (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag granulation pond<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">). Kemudian slag cair yang mengalir akan mengalami pendinginan.<\/span><\/p>\n<p>&nbsp;<\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Nah, di proses pendinginan juga terdapat dua metode. Pertama, pendinginan secara mendadak dibantu dengan semprotan air bertekanan tinggi untuk memecah ukuran <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> hingga terbentuk butiran-butiran. Kedua, pendinginan dengan udara, yaitu ukuran butir agregat limbah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nikel bisa diatur dan ditentukan dengan alat pemecah batu (<\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">stone crusher<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\">).<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Adapun slag nikel yang paling ideal untuk dijadikan bahan baku jalan ialah limbah <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nikel dengan sistem pendinginan udara karena memenuhi syarat minimum tes <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">California Bearing Ratio<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> (CBR). CBR adalah tes untuk mengetahui nilai kekuatan daya dukung lapisan, yaitu 90%. Sementara itu, <\/span><i><span style=\"font-weight: 400;\">slag<\/span><\/i><span style=\"font-weight: 400;\"> nikel yang diperoleh secara pendinginan mendadak hanya dapat dimanfaatkan sebagai bahan timbunan pilihan.<\/span><\/p>\n<p><span style=\"font-weight: 400;\">Cara mengolah limbah nikel ini perlu diperhatikan untuk dikembangkans sebagai bahan jalan. Ternyata, walaupun termasuk limbah B3, bila diolah dengan benar limbah nikel bisa jadi barang bermanfaat lainnya, ya, Sob.<\/span><\/p>","protected":false},"excerpt":{"rendered":"<p>Primadona sektor pertambangan, yaitu nikel, ternyata tetap menghasilkan limbah. Material buangan dari proses peleburan bijih nikel di smelter disebut slag. Namun kabar [&hellip;]<\/p>","protected":false},"author":1,"featured_media":2263,"comment_status":"open","ping_status":"open","sticky":false,"template":"","format":"standard","meta":{"_jetpack_memberships_contains_paid_content":false,"footnotes":""},"categories":[6],"tags":[],"class_list":["post-2262","post","type-post","status-publish","format-standard","has-post-thumbnail","hentry","category-edukasi"],"jetpack_featured_media_url":"","jetpack_sharing_enabled":true,"_links":{"self":[{"href":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2262","targetHints":{"allow":["GET"]}}],"collection":[{"href":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts"}],"about":[{"href":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/types\/post"}],"author":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/users\/1"}],"replies":[{"embeddable":true,"href":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/comments?post=2262"}],"version-history":[{"count":0,"href":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/posts\/2262\/revisions"}],"wp:attachment":[{"href":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/media?parent=2262"}],"wp:term":[{"taxonomy":"category","embeddable":true,"href":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/categories?post=2262"},{"taxonomy":"post_tag","embeddable":true,"href":"https:\/\/teknominerba.com\/en\/wp-json\/wp\/v2\/tags?post=2262"}],"curies":[{"name":"wp","href":"https:\/\/api.w.org\/{rel}","templated":true}]}}